Waktu subuh yang benar jam berapa sih?

Bulan Mei lalu ada teman yang bertanya via fb,

Bagaimana menurut mas, fajar sidiq di Indonesia itu matahari 20 derajat atau 11 derajat di bawah ufuk?
[sembari menyertakan tautan artikel berjudul Muhammadiyah: Penetapan waktu shalat subuh perlu dikoreksi. Artikel ini kini sudah dihapus namun sempat dimuat di situs lain.]

Polemik mengenai waktu subuh ini dimulai tahun 2009 ketika majalah Qiblati memuat artikel berseri tentang waktu subuh di Indonesia yang terlalu cepat 25 menit dari yang seharusnya, disertai dengan foto-foto pengamatan fajar dari Jayapura dan Jawa Timur. Untuk diketahui, topik ini tidak hanya menjadi perbincangan di Indonesia, tapi juga di Mesir dan Saudi Arabia. Namun kita juga perlu menyadari bahwa ini adalah hal yang sensitif dan dibutuhkan kajian akademis yang serius.

 

Waktu subuh menurut Qur’an dan hadits
Beberapa dalil syar’i yang mengatur penentuan waktu subuh adalah,

  • “Hingga tampak terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.“ (QS. Al-Baqarah: 187)
  • “…hingga membentang padamu fajar kemerahan.“ (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
  • “Bukanlah fajar itu cahaya yang meninggi di ufuk, akan tetapi yang membentang berwarna merah (putih kemerah-merahan). (HR. Ahmad dengan tingkatan hadits hasan)
  • “Rasulullah saw shalat subuh ketika tampak terang pada beliau subuh.” (HR. Nasai) — yang dikomentari oleh Imam Nawawi dalam bukunya Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab: “Umat telah berijma’ bahwa awal waktu subuh adalah munculnya fajar shadiq, yaitu fajar kedua”

Dari dalil di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. waktu subuh adalah saat kita mulai bisa membedakan benda-benda di sekitar kita.
  2. sahabat dan ulama mengenal dua jenis fajar, yakni yang tampak meninggi di ufuk dan yang berwarna kemerahan. Waktu subuh adalah fajar yang disebut belakangan.

 

Fajar secara astronomi
Ilmu astronomi mengenal waktu fajar dan senja (twilight) berdasarkan pendaran cahaya di langit yang disebabkan oleh hamburan cahaya matahari di atmosfer saat matahari masih di bawah ufuk. Waktu fajar dibagi menjadi tiga. Pembagian waktu fajar ini sama sekali tidak terkait dengan waktu sholat, namun pada fenomena astronomis. Selain itu, dikenal juga istilah zodiacal light yang seringkali disebut sebagai fajar palsu. Berikut adalah urutan waktunya, dimulai dari malam hingga terbitnya matahari.

  • malam, –saat langit gelap, matahari jauh di bawah ufuk
    Malam hari adalah saat pengamatan objek langit yang redup seperti galaksi dan nebula dapat dilakukan
  • zodiacal light, –di penghujung malam menjelang astronomical twilight
    Zodiacal light adalah pendar cahaya di ufuk yang tampak naik memanjang sepanjang ekliptika. Cahaya ini disebabkan oleh sinar matahari yang dihamburkan oleh serpihan debu ekor komet. Zodiacal light biasanya diasosiasikan dengan fajar palsu (khadzib) atau fajar pertama yang disebut di hadits Ahmad di atas.
  • astronomical twilight, —dimulai sejak matahari 18o di bawah ufuk
    Saat astronomical twilight, objek redup seperti galaksi dan nebula mulai sukar teramati. Hanya bintang terang saja yang bisa terlihat dengan mata telanjang (paling redup hingga magnitudo 6).
  • nautical twilight, —dimulai sejak matahari 12o di bawah ufuk
    Sebelum nautical twilight, pelaut tidak bisa melihat garis cakrawala (batas antara air laut dan langit) di arah barat saat dini hari. Namun setelahnya, cakrawala terlihat jelas. Bahkan dengan penglihatan yang baik, bayangan pulau dan kapal di kejauhan mulai bisa terlihat.
  • civil twilight, –dimulai sejak matahari 6o di bawah ufuk hingga matahari terbit
    Langit sudah terang dan kita mampu mengenali benda-benda di sekitar kita. Seringkali langit berwarna kemerahan.
  • matahari terbit, –saat matahari muncul di ufuk timur
    Ini adalah waktu yang disepakati sebagai berakhirnya waktu subuh.
twilight
Ilustrasi urutan fajar (gambar kanan oleh Tom Scott).
zodiaclight-twilight
Kiri: Zodiacal light di Paranal Observatory. Kanan: Fajar di Dubai.

 

Waktu subuh di Indonesia
Masjid-masjid di Indonesia umumnya mengumandangkan adzan subuh berdasarkan jadwal sholat yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama. Jadwal tersebut menggunakan perhitungan dari ahli falak Saadoedin Djambek dan muridnya, Abdur Rachim. Menurut mereka, subuh adalah saat matahari 20o di bawah ufuk. Artinya menurut astronomi, saat malam hari. Mengapa demikian?

Jaman dahulu, beberapa ilmuwan muslim seperti Ibnu Yunus, Ibnu Haytham, dan Al Biruni mengukur peralihan waktu malam dan memperoleh posisi matahari 17o-20o di bawah ufuk. Kemudian di awal abad 20, pemerintah Mesir meminta dua orang astronom Inggris, Lehman dan Melthe untuk menentukan waktu subuh. Hasilnya mereka menetapkan sudut matahari 19,5o di bawah ufuk. Saadoedin Djambek rupanya mendengar hal ini dan dengan prinsip kehati-hatian membulatkan angka tersebut menjadi 20o di bawah ufuk. Untuk diketahui, umumnya posisi matahari saat subuh dan isya sama, 18o di bawah ufuk. Namun Djambek memiliki pertimbangan bahwa melihat sesuatu dari kondisi gelap ke terang akan lebih mudah ketimbang kondisi terang ke gelap. Sehingga untuk waktu subuh, ditentukan lebih malam (posisi matahari lebih rendah).

table-fajr
Posisi matahari saat fajar/subuh yang ditentukan oleh beberapa ilmuwan muslim terkenal jaman dahulu.

Sebagai perbandingan, berikut adalah kriteria waktu subuh, isya dan maghrib yang saat ini diterapkan di beberapa tempat di dunia. Indonesia adalah negara dengan waktu subuh paling dini.

shalat-times

 

Hasil pengamatan dan pengukuran
Isu jadwal subuh yang terlalu cepat mulai sampai ke masyarakat tahun 2009 saat fotokopian majalah Qiblati disebarkan di Yogyakarta dan Banjarmasin. hingga akhirnya Komisi Fatwa MUI DIY menggelar pertemuan untuk mengklarifikasi.

Beberapa orang mulai melakukan pengamatan di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Contohnya pak AR Sugeng Riyadi atau dikenal dengan pak AR Pakar Fisika, dengan berbekal kamera digital, beliau mengabadikan kondisi langit fajar di berbagai posisi matahari. Hasilnya, menurut beliau fajar baru terlihat saat sudut matahari kurang dari 17o di bawah ufuk (sumber).

Menilik pendapat astronom di luar negeri, secara umum sulit membedakan kondisi langit saat malam hari dengan astronomical twilight. Sehingga tidak ada batasan jelas bahwa astronomical twilight pasti mulai terjadi saat matahari 18o di bawah ufuk. Lebih tepat jika dikatakan bahwa astronomical twilight terjadi di suatu waktu antara posisi 12o-18o di bawah ufuk. Sehingga waktu subuh dapat saja terjadi antara rentang posisi tersebut, bergantung pada lintang, ketinggian tempat, dan kondisi geografis (misalnya, ada tidaknya bukit di arah timur). Jika saat astronomical twilight cakrawala masih belum terlihat, apalagi untuk dapat membedakan benang putih dan benang hitam dengan jelas seperti yang disebutkan di QS Al-Baqarah: 187.

“During this period the illumination conditions can hardly be distinguished from night
(G.V.Rozenberg, 2013, Twilight: a study in atmospheric optics)

“….at depressions of the sun of 15 degrees and 18 degrees, the horizon would not be visible. At depressions of less than 12 degrees the horizon would just be visible.”
(Dr Steve Bell, Royal Greenwich Observatory)

There is no precise definition of ‘dawn’, if it is interpreted as the time of ‘first light’, dawn corresponds to a depression between 18 and 12 degrees but it is not possible to be more precise”
(Yallop & Hohenkerk, Royal Greenwich Observatory Information Sheet No. 7)

“The change in illumination from 13 to 18 degrees is so negligible that, without instruments that were only available from the 1940’s, the change would not make any appreciable difference to the naked eye”
(Afzal, Shaukat & Imam, 2011, When to pray Fajar and Isha)

Bagaimana dengan astronom Indonesia?

Dr. Dhani Herdiwijaya, pengajar di Program Studi Astronomi ITB yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha periode 2004-2006 melakukan pengukuran kecerlangan langit (sky brightness) menggunakan alat Sky Quality Meter (SQM). Mulanya beliau menggunakan alat ini untuk mengukur polusi cahaya di Observatorium Bosscha. Namun kemudian data yang diperoleh menunjukkan tren yang jelas antara malam hari, fajar, dan pagi hari. Publikasi beliau tentang waktu subuh adalah,

Dalam publikasi tersebut, beliau menyarankan waktu subuh saat posisi matahari 17o di bawah ufuk. Perbedaan waktu dengan jadwal subuh saat ini adalah 3o atau setara dengan 12 menit. Jika ini benar, berarti waktu subuh kita selama ini terlalu cepat 12 menit.

Konversi derajat sudut ke waktu:
Dalam 1 hari = 24 jam=1440 menit, bumi berotasi 360o,
sehingga 1o setara dengan 4 menit.

Berikut cuplikan data yang digunakan Pak Dhani dalam publikasinya.

data-sqm

 

Diskusi
Beberapa catatan yang perlu dicermati bersama tentang hasil pengukuran menggunakan SQM ini.

  1. SQM memiliki medan pandang cukup luas (~20o) sehingga memungkinkan adanya gradien kecerlangan langit yang disebabkan oleh awan atau cahaya lain yang masuk dan mempengaruhi pengukuran.
  2. SQM menggunakan filter HOYA CM-500 yang rentang kepekaannya disesuaikan dengan mata dan telah dikalibrasi  dengan NIST meter. Namun hasilnya tetap perlu dikonfirmasi dengan pengamatan langsung (mata telanjang), apakah benar fajar terlihat saat tren data kecerlangan langit tak lagi konstan. Hal ini karena mata manusia memiliki kontras dan rentang dinamika yang berbeda dengan kamera.
  3. Sekali lagi, masih terdapat kesulitan menentukan atau menyepakati di titik mana di data pengukuran tersebut, waktu subuh yang benar. Apakah di awal saat grafik mulai menurun, atau di mana? SQM hanya memberikan data yang kuantitatif dan objektif, namun interpretasinya masih perlu didiskusikan bersama antara ahli astronomi, falak, dan ulama.

Jadi, kembali ke pertanyaan teman saya di atas, fajar di Indonesia saat posisi matahari berapa derajat? Menurut saya antara 15o-18o. Tapi tentu masih perlu kajian bersama untuk menyelesaikannya. Bersegera, tapi tidak tergesa…..

اتق الله، واصبر ولا تستعجل

Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu – buru“.

Bandung, 6 Juli 2017 19.19 wib.

 

 

Advertisements
Waktu subuh yang benar jam berapa sih?

3 thoughts on “Waktu subuh yang benar jam berapa sih?

  1. Masya Allah..
    Kutipan dari Al-Quran: Aal-i-Imraan (3:190)
    إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
    Terima kasih kang evan atas kajiannya, semoga Allah tambah keberkahannya

    Like

  2. Andy M says:

    Makasi banyak mas Evan artikel nya, sangat bermanfaat dan semoga lebih bermanfaat. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s